BREAKING NEWS

Rabu, 12 April 2023

KH. Mahrus Aly: Perjuangan dari Pesantren, dan Gagasan Pendidikan Modern

 

                    Terdapat seorang ulama besar pejuang kemerdekaan, pendiri universitas, penasehat Kodam V Brawijaya, sekaligus kiai yang senantiasa berada di tengah-tengah santrinya untuk menggelar pengajian. Beliau adalah KH. Mahrus Aly, tokoh yang merakyat, namun sulit bagi kita untuk tidak mengatakan bahwa beliau adalah “orang besar”. Marilah kita simak kehebatan kisah hidupnya.

            KH. Mahrus Aly lahir pada tahun 1906 di Dusun Gedongan, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Beliau merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara, dari pasangan KH. Aly bin Abdul Aziz dengan Hasinah binti KH. Sa’id.

            Masa kecil beliau dikenal dengan nama Rusydi dan lebih banyak tinggal di tanah kelahiran. Sifat kepemimpinan beliau sudah nampak dari kecil. Dalam kesehariannya beliau menuntut ilmu di surau pesantren milik keluarga. Beliau diasah oleh ayah sendiri, KH. Aly dan sang kakak kandung, Kyai Afifi. Saat berusia 18 tahun, beliau melanjutkan menuntut ilmu ke Pesantren Panggung, Tegal, Jawa Tengah di bawah asuhan KH. Mukhlas kakak iparnya sendiri.

            Di sinilah kegemaran belajar ilmu nahwu KH. Mahrus Aly semakin teruji dan mumpuni. Selain itu beliau juga belajar silat kepada KH. Balya, ulama jawara pencak silat asal Tegal Gubug, Cirebon. Pada saat mondok di Tegal ini pula beliau menunaikan ibadah haji pada tahun 1927 M.

            Tahun 1929 M. KH. Mahrus Aly melanjutkan ke pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. Cholil. Setelah lima tahun, beliau berpindah ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri untuk melanjutkan menuntut ilmu. Beliau juga menjadi pengurus serta pengajar di Lirboyo karena mempunyai ilmu yang mumpuni dan dikenal tidak pernah letih mengaji. Bahkan saat libur pun beliau memilih untuk tetap mengaji di pondok lain seperti di Pondok Tebu Ireng asuhan KH. Hasyim Asy’ari.

            Beliau sangat disukai oleh KH. Abdul Karim karena ketekunan dan kealimannya, hingga diangkat sebagai menantu dengan menikahkan salah satu putri KH. Abdul Karim yang bernama Zaenab. Beliau menikah pada tahun 1938 M. Pada tahun 1944 M. KH. Mahrus Aly membangun rumah di sebelah timur komplek Pondok atas perintah KH. Abdul Karim.

            Sepeninggal KH. Abdul Karim, KH. Mahrus Aly bersama KH. Marzuqi Dahlan meneruskan tambuk kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo. Di bawah kepemimpinannya, Pondok Lirboyo mengalami kemajuan yang pesat. Santri berduyun-duyun datang untuk menuntut ilmu dan mengharapkan barokah dari KH. Mahrus Aly dan KH. Marzuqi Dahlan.

            KH. Mahrus Aly mempunyai andil besar dalam perkembangan Jamiyyah Nahdlatul Ulama, bahkan beliau diangkat sebagai Rois Syuriyah Jawa Timur selama hampir 27 Tahun, hingga akhirnya diangkat menjadi anggota mustasyar PBNU pada tahun 1985 M.

            Beberapa jasa KH. Mahrus Aly yang paling populer adalah:

1.      Mendirikan Perguruan Tinggi

Pada tahun 1996, KH. Mahrus Aly mendirikan Perguruan Tinggi bernama UIT (Universitas Islam Tribakti) dengan tujuan mengembangkan Ilmu Pengetahuan Islam di Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa beliau memiliki pemikiran yang revolusioner sebagai kyai yang notabennya tidak menempuh pendidikan formal. Universitas Islam Tribakti merupakan warisan luhur beliau yang dapat kita lihat sampai hari ini.

2.      Melawan Penjajah dan Menumpas PKI

Beliau juga berperan melawan penjajah, dibuktikan saat beliau memerintahkan 97 santri lirboyo untuk menumpas sekutu di Surabaya. Peristiwa tersebut dikenang dengan perang 10 November. Beliau juga berkiprah besar dalam penumpasan PKI di sekitar Kediri.

Perlawanan ini mengisyaratkan bahwa pesantren bukanlah alasan bagi beliau untuk tidak membela dan memperjuangkan tanah air.

Tanggal 18 Mei 1985,  kesehatan beliau benar-benar memburuk, setelah opname di RS. Bhayangkara Kediri, beliau dirujuk ke RS. Dr. Soetomo Surabaya sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 26 Mei 1985. Beliau wafat diusia 78 Tahun.

Dari pemamparan singkat mengenai biografi beliau dapat saya ambil kesimpulan bahwa beliau adalah benar-benar ”orang besar” dengan proes yang panjang. Bagai mutiara di tengah lautan yang dalam, indah dan bernilai jika kita mengerti dan paham.

Pertanyaanya, Sebagai generasi penerus bangsa, mau dan mampukah kita mewarisi semangat beliau yang tekun berjuang demi agama,  masyarakat, dan negara?


Penulis : Reyda Hafis A.

Editor : Fina

DAFTAR PUSTAKA

 

Buku Tiga Tokoh Lirboyo, Cetakan ke 3 Tahun 1995.

Wawancara langsung dengan Kiyai Basyaruddin,  Alumni Pondok Pesanten Lirboyo. 1998.   Hari jumat, 9 September 2022. Pukul 20.00 WIB.


Share this:

2 komentar :

 
Copyright © 2014 PC IPNU IPPNU KAB. KEDIRI. Designed by Ragiel Boy's Group