BREAKING NEWS

Rabu, 03 Februari 2021

FIA 4.0 (FEMALE IN ACTION) : INOVASI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN BERBASIS INTENSIVE TRAINING DAN CREATIVE EDUCATION

FIA 4.0 (FEMALE IN ACTION) : INOVASI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN BERBASIS INTENSIVE TRAINING DAN CREATIVE EDUCATION

 


PENDAHULUAN

“Perempuan ibarat separuh masyarakat yang telah melahirkan separuh masyarakat lainnya, sehingga perempuan seolah-olah mampu mewakili seluruh peradaban. Ia juga diibaratkan lingkaran dengan kekuatan menciptakan, memelihara dan mengubah dunia”

-Diane Mariechild-

 

Kutipan di atas seolah mendeskripsikan besarnya pengaruh peran perempuan dalam visi pembangunan. Selain berperan sebagai pencetak generasi dan penentu moral bangsa, perempuan juga memiliki peran penting dalam aspek pembangunan ekonomi, politik, dan sosial budaya. Hal ini terlihat dari banyaknya perempuan di negara maju yang menduduki posisi penting dalam bisnis dan pemerintahan. Pernyataan ini sejalan dengan data dari Mastercard Index of Women Entrepreneurs tahun 2017 yang menyatakan bahwa terjadi  hubungan yang besar antara Amerika Serikat sebagai negara maju dunia dan penduduk perempuannya. Di Amerika Serikat jumlah perempuan yang menduduki posisi penting meningkat sekitar 60% dan peningkatan ini berbanding lurus dengan kemajuan peringkatnya sebagai negara maju dunia.

Kemajuan bangsa yang dimaksud berkaitan erat dengan kesiapan sumber daya manusia terutama pada masa generasi emas 2045. Generasi emas 2045 adalah generasi yang diharapkan menjadi perintis perubahan dalam membentuk kehidupan dan peradaban bangsa yang lebih baik. Hal ini merupakan batu loncatan sekaligus window of opportunity yang menjadikan Indonesia selangkah lebih maju dimata dunia karena pada saat itulah Indonesia mengalami sebuah fenomena yang disebut dengan bonus demografi.

Bonus Demografi merupakan kondisi dimana suatu wilayah atau negara memiliki jumlah penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan dengan usia non-produktif (usia 65+) pada satu kesempatan. Dalam bonus demografi mendatang, jumlah penduduk Indonesia 70%-nya adalah usia produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun). Data ini mengisyaratkan bahwa Indonesia pada generasi emas 2045 mendatang akan kebanjiran sumber daya manusia yang diharapkan siap membawa perubahan dan inovasi hebat dengan etos kerja dan daya saing tinggi terhadap pembangunan Indonesia.

Konsep gender menjelaskan bahwa perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan bukan ditentukan oleh perbedaan biologis atau kodrat, tapi dibedakan menurut kedudukan, fungsi dan peranan masing-masing dalam berbagai bidang kehidupan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa konsep gender seharusnya dipahami sebagai konsep yang membangun dan mendukung penuh akan besarnya peran perempuan dalam pembangunan sebuah negara. Namun pada sisi yang bertentangan, masyarakat Indonesia justru menganggap bahwa konsep gender adalah alasan yang menjadi pembatas perempuan untuk berkembang karena adanya ketentuan biologis atau kodrat. Mereka bahkan menyempitkan peran perempuan dengan menjadikannya human in second position dibeberapa aspek.

Beranjak dari latar belakang tersebut, penulis bermaksud untuk menawarkan sebuah inovasi pemberdayaan perempuan guna meningkatan peran dan kualitas perempuan sekaligus membuka pemikiran masyarakat terkait kesalahan berpikir yang ada. Penulis berharap inovasi ini mampu memberi solusi terbaik terhadap permasalahan tersebut sehingga mampu mewujudkan sumber daya perempuan yang berkualitas tinggi pada masa Indonesia Emas 2045 mendatang.

ISI

Di dalam implementasi nyata pemberdayaan perempuan, dibutuhkan program berupa edukasi kreatif sebagai media peningkatan kualitas perempuan yang mampu mengubah mindset masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, penulis menawarkan sebuah inovasi pertama di Indoensia dengan nama “FIA 4.0. (Female in Action)”. Pemberdayaan ini diaplikasikan melalui program intensive training dan creative education dengan basis education-entertainment arts.

Intensive training terfokus pada aspek peningkatan sociotechnopreneur bagi perempuan usia 16-25 tahun. Bimbingan diberikan dengan kurikulum yang berisi program peningkatan softskill dan hardskill. Intensif training diaplikasikan melalui dua metode khusus yaitu secara face to face dan website online yang disebut melalui online training modules. Mereka juga harus melewati seleksi di mana mereka mendapatkan tantangan gerakan 1000 video untuk menyuarakan aspirasinya terkait peran perempuan melalui media sosial. Metode ini sebagai langkah awal dalam membuka mindset masyarakat yang terlalu menyempitkan peran perempuan dengan menjadikannya human in second position.

Adapun program creative education merupakan solusi dari permasalah masyarakat Indonesia yang memiliki pemahaman salah terkait konsep gender. Program ini berbasis education-entertainment arts yang diaplikasikan melalui mekanisme penggunaan pameran kesenian sebagai media penyampaian edukasi yang menghibur tanpa menghilangkan nilai yang disampaikan. Contoh dari metode ini adalah metode role playing yang menggambarkan masalah pemberdayaan perempuan secara kreatif. Program inovasi yang penulis tawarkan dapat lebih dijelaskan melalui uraian berikut :

1. Intensive Training

 

Intensive training merupakan sebuah program berbentuk pelatihan yang terfokus kepada setiap potensi peserta program dalam meningkatan kualitas sumber daya perempuan dengan kurikulum pengembangan diri terhadap softskill dan hardskill. Hard skill training lebih banyak mengulas tentang teknis pekerjaan, sedangkan soft skill training lebih mengarah pada pengembangan SDM dan kemampuan pengelolaan diri yang baik, seperti keahlian kerja sama, kemampuan berkomunikasi dengan baik, keberanian dalam menggerakkan, kemampuan untuk bernegosiasi, dan perkembangan diri secara personal. Cara ini dianggap efektif karena terfokus pada bagaimana pemenuhan apresisi potensi dan bimbingan langsungan terhadap pemenuhan peningkatan kualitas diri peserta yang disesuaikan dengan visi program ini.

Program ini dilaksanakan melalui 2 metode yaitu secara face to face dan online training modules. Metode face to face dilaksanakan melalui tiga tahap  yaitu selection people, bition dan supervition. Pada tahap selection people mereka harus mampu melewati seleksi berkas, wawancara dan psikotes. Uniknya dalam tahap seleksi berkas, mereka dituntut untuk mengikuti “Gerakan 1000 video” dengan tema Pemberdayaan Perempuan Menyosong Pembangunan sebagai challenge yang akan diviralkan melalui media sosial. Harapannya dengan penggunaan media sosial seperti Instagram, YouTobe, dan lainnya dapat menarik perhatian masyarakat pada gerakan pertama. Tahap selanjutnya adalah Bition (build and take action), tahap ini merupakan tahap pelatihan secara face to face yang mana mereka akan diberikan pengenalan tentang pentingnya peran perempuan dan keranah mana saja mereka mampu membawa potensinya. Mereka akan diajarkan bagaimana menjadi perempuan yang bernilai tinggi dari segi kecerdasan, behavior, dan hardskill yang menunjangnya dalam pekerjaan atau karir. Mereka juga ditekankan akan pentingnya konsep women leadership style dalam meningkatkan integritas dan kredibilitasnya. Setelah kualitas diri tercapai, mereka akan masuk ketahap pewujudan karya atau project yang mereka garap. Tahap ini merupakan sarana bagi peserta untuk memberikan pengaruh positif terhadap masyarakat. Tahap terakhir adalah supervition, disini mereka menjadi mentor bagi anggota dibawahnya. Melalui program ini juga akan dilaksanakan berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi publik atau online dan turun ke desa- desa tertentu untuk membangun dampak sosial.

Adapun ditahap yang sama peserta juga disediakan pelatihan dalam bentuk online training modules. Sistem ini merupakan sistem pemberdayaan online pertama di Indonesia dimana sistem ini dianggap sebagai bentuk dinamisme teknologi di era milenial dalam bentuk website. Bentuk ini sebagai keunikan pemberdayaan perempuan pertama berbasis teknologi yang mudah diakses oleh perempuan secara fleksibel. Fitur ini juga berisi edukasi kreatif dengan menu yang sediakan berupa video tentang kepemimpinan, prestasi, entrepreneur, pencapaian perempuan-perempuan hebat, dan motivasi bagi mereka.

2. Education Entertainment Art

 

Konsep education entertainment art merupakan program kedua yang penulis tawarkan. Program ini memiliki keunggulan dari segi sistem penyampaian nilai-nilai penting akan peran perempuan dalam pembangunan dengan prinsip art education. Menurut hasil penelitian dari University of Art London (2017), Seni sebagai media edukasi menarik dapat diberikan kepada masyarakat untuk memperbaiki pemahaman atau konsep gender yang salah karena hanya seni yang mampu menyampaikan nilai tanpa kaku dan sejalan dengan kebudayaan masyarakat sekitar. Seni dapat mempengaruhi tingkah laku dan tindakan masyarakat secara kolektif sehingga melukiskan aspek yang bersifat secara sosial. Seni memiliki peran sebagai media edukasi karena eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam mampu tersampaikan tanpa menghilangkan esensi dari nilai yang ingin disampaikan. Disisi yang sama, seni mampu memberikan edukasi prinsip media hiburan. Hal ini membuat penyampaian yang tidak kaku terlebih bagi masyarakat yang begitu fanatik terhadap kesalahan konsep gender.

Prinsip program ini merupakan kerjasama antara peserta dan FIA 4.0 sebagai bentuk komitmen bersama untuk mengubah pola pikir masyarakat. Program ini penulis rencanakan akan berjalan 3 bulan sekali selama 1 tahun dan target sasarannya adalah daerah-daerah dengan masyarakat ekonomi menengah kebawah yang masih kental dengan kebudayaan Indonesia. Adapun bentuk pelaksanaanya berupa konsep pertunjukan seni seperti wayang, teater, pameran seni 2 dan 3 dimensi, sastra maupun film pendek yang menarik masyarakat. Melalui program ini penulis juga memberikan ruang bagi perempuan daerah untuk menyuarakan aspirasi mereka terkait permasalahan kemajuan perempuan dengan perpaduan konsep “Saatnya Aku Bersuara”. Puncak dari program ini adalah akan dilaksanakannya kegiatan terbesar oleh peserta dan FIA 4.0 sebagai sarana perpaduan seni dan kolaborasi terkait karya yang telah peserta raih.

PENUTUP

 1.       Simpulan

FIA 4.0 adalah sebuah inovasi pemberdayaan perempuan yang terfokus pada prinsip prestatif, proaktif, dan kontributif dengan berbasis pemanfaatan teknologi dan seni yang menarik. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas dan peran perempuan Indonesia untuk mencapai pembangunan menuju besarnya bonus demografi mendatang pada Indonesia emas 2045. Oleh karena itu, dengan adanya program ini penulis yakin bahwa perempuan mampu mendapatkan dukungan sekaligus wadah agar mereka mampu berkembang optimal dan membawa perubahan terhadap kekeliruan berpikir masyarakat.

2.       Saran

 

Tantangan pemberdayaan berbasis FIA 4.0 terletak pada strategi penarikan minat perempuan yang ada. Pemberdayaan harus mendapat dukungan melalui orang-orang disekitar sehingga mampu meningkatkan media branding yang baik. Branding yang menarik harus diciptakan baik secara door to door maupun melalui sosial media. Selain itu, program ini setidaknya mampu menarik perhatian dan peran pemerintah dalam pembangunan dibagian pelegalan program dan bantuan pendanaan.

QURROTUL UYUN ( MAN 4 KEDIRI )


Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 PC IPNU IPPNU KAB. KEDIRI. Designed by Ragiel Boy's Group