BREAKING NEWS

Minggu, 17 Januari 2021

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN

 


Peran wanita dalam kemajuan bangsa tidak hanya sekedar melahirkan dan merawat penerus bangsa. Namun wanita pada zaman sekarang ikut berpartisipasi dalam memajukan perekonomian, karena mereka juga mengurus keluarga dan turut berperan untuk perekonomian keluarga.

Di abad dua puluh ini kita bisa melihat bahwa emansipasi wanita telah terjadi di negeri ini. Banyak dari wanita zaman sekarang melakukan pekerjaan yang dulunya dikerjakan oleh laki-laki, seperti CEO, pesepakbola, sopir, pilot, dan lainnya. Jika dibandingkan dengan negara Amerika yang tidak memiliki sejarah presiden wanita, Di Indonesia sudah pernah memiliki presiden wanita. Indonesia juga mempunyai hari nasional untuk memperingati peran seorang wanita dengan pendidikan dan hak haknya, yaitu Hari Kartini.

Disamping International women’s day, hari Kartini dirayakan di Indonesia sebagai reminder masyarakat terhadap perempuan yang menggebrak sistem pendidikan untuk semua gender. Hari Kartini ini menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa Indonesia tidak lepas dari pengaruh seorang wanita. Setelah ini saatnya para wanita muda meneruskan perjuangan R.A Kartini dalam memajukan bangsa dan menumpas sisa sisa paham tua akan wanita yang harusnya tunduk menjadi wanita yang berdaya.

Kesadaran terhadap pentingnya pendidikan terhadap perempuan masih tergolong rendah. Terkadang perempuan masih terjebak pada zona nyaman yang tak jauh dari dunia gemerlap. Terdapat faktor internal dan faktor eksternal sehingga menyebabkan pemikiran yang rabun akan dunia pendidikan. Salah satunya adalah faktor ekonomi yang mengharuskan perempuan tak dapat merasakan senangnya hidup dalam dunia pendidikan.

Disisi lain, perempuan masih mengalami tindakan represif yang didasari oleh interpretasi agama yang cenderung dimaknai secara konservatif dan cenderung bisa gender. Pemikiran tersebutlah yang menyebabkan terjadinya kemunduran dalam konteks pendidikan bagi perempuan.

Sedangkan di Indonesia sendiri, terdapat faktor ekonomi yang menjadi salah satu faktor ketertinggalan perempuan untuk merasakan pendidikan. Alasan lain menyebutkan bahwa adanya intervensi antara urusan rumah tangga dan pendidikan, ketika perempuan melanjutkan studi yang lebih tinggi. Dalam budaya masyarakat Jawa, ada sebuah ungkapan seperti, “lebih baik menikah dini daripada harus menjadi perawan tua karena mementingkan studi” begitu kasarannya.

Padahal jika diteliti, semangat untuk berpendidikan makin lama kian pudar seiring dengan hambatan-hambatan yang terjadi. Jikalau menikah dibarengi dengan studi, maka perempuan akan mengalami peran ganda dan mengharuskan untuk bekerja keras untuk melakukan penyeimbangan, dalam konteks social yang masih berlutut pada pemikiran gender konvensiaonal.

Jurnalis sekaligus penggagas Narasi TV, Najwa Shihab  tak bisa menampik masih ada kesulitan yang dirasakan perempuan Indonesia dalam hal meraih kesuksesan. Menurutnya, salah satu yang menghambat kemajuan perempuan adalah mindset  atau pola pikir perempuan itu sendiri.

Sering sekali perempuan menganggap rendah dirinya sendiri dan secara sistematis melakukan itu. Jangan terbelenggu oleh pemikiran lingkungan sekitar ataupun diri sendiri. Karena, kedua hal tersebutlah yang membuat perempuan Indonesia belum diakui di Indonesia meskipun telah mengukir kesuksesan.

Dalam program TV “Mata Najwa” ia menuangkan catatan bagi seluruh perempuan Indonesia untuk memberdayakan diri

“Dalam narasi narasi hidup yang nyata, menjadi kekuatan tak terbatas.

Mereka aktif mencegah kebodohan, berjuang untuk kelestarian hutan dan alam.

Saat pembangunan memperparah kemiskinan, ada perempuan yang utama menjadi korban.

Seumur hidup membebaskan diri dari sistem patriarki, benteng terakhir terhadap globalisasi.

Mereka berada dibarisan paling depan, memastikan urusan hidup keluarga.

Tindakan perempuan diilhami hidup sehari-hari, langkahnya panjang sebab tak menghidupi dirinya sendiri.

Katanya kau bagi urusan-urusan kecil, tapi menjadi agung dan besar karena dipikul hingga akhir.

Tak akan ada pemberdayaan lebih kekal berkelanjutan, tanpa melibatkan perempuan”

Dengan demikian bisa diartikan bahwa Pendidikan tinggi saat ini dapat dikatakan wajib untuk diikuti wanita. Bahkan wanita yang ingin berumah tangga juga harus berpendidikan. Intelektual yang dibutuhkan untuk membangun keluarga yang cerdas dan kuat. Anak-anak yang cerdas dibesarkan oleh ibu yang berdedikasi dan pintar.

Perempuan memiliki peranan yang penting dalam hal pendidikan, bahkan pendidikan pertama yang diberikan kepada anak ialah dari seorang ibu. Ibu memiliki andil yang besar dalam melakukan pengembangan potensi anak. Ada sebuah pepatah yang mengatakan jika perempuan cerdas akan melahirkan anak anak yang cerdas pula. Hal tersebut dimaknai bahwa pendidikan akan berpengaruh dalam pola pikir dalam keluarga,cara mendidik anak dan menerapkan prinsip prinsip keadilan dikeluarga.

Soekarno kemudian menafsirkan perempuan dalam sepenggal kalimat “Perempuan itu tiang negeri”. Dalam konteks kalimat tersebut, maka seharusnya wanita sadar akan posisinya untuk mencetak peradaban bangsa yang berkemajuan. Sedangkan alat untuk menjalankannya ialah pendidikan, jika perempuan mendapatkan pendidikan yang baik, maka jangan heran jika sebuah negara atau institusi di mana perempuan itu berpijak akan mengangkat martabat bangsa.

Pendidikan bukan hanya berkaitan soal mengasah akal dan tingkat intelektual saja, namun juga memperhatikan kepribadian. Kartini mengatakan jika pendidikan bukan hanya mempertajam akal, budi pekertipun juga harus dipertinggi. Intinya adalah dalam menjalankan sistem pendidikan, tidak hanya mengutamkan tingkat kecerdasan semata, namun juga menanamkan budi pekerti.

Banyak sekali sarjana wanita yang menjadi ibu rumah tangga untuk fokus membesarkan buah hati mereka menjadi manusia yang ’jadi’. Jangan salah, menjadi ibu rumah tangga malah justru merepotkan dan melelahkan. Membesarkan anak dan mengurus keluarga membutuhkan kesabaran dan keikhlasan.

Apapun jalan hidupnya wanita jaman sekarang harus merdeka menentukan mimpinya dan berpartisipasi dalam ruang publik. Tugas kartini kartini muda saat ini adalah meneruskan perjuangan pahlawan untuk mensejahterakan rakyat, diri sendiri dan bangsa.

FARIHAH ISMIATI HUSNA ( PAC Badas )

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 PC IPNU IPPNU KAB. KEDIRI. Designed by Ragiel Boy's Group