BREAKING NEWS

Rabu, 20 Mei 2020

Fragmentasi Eksponen Departemen Jomblo





Apa kabar puasanya, mblo? Masih jomlo atau mungkin sudah ter-unistal kejomloannya! Dalam panggung asmara, entah dimulai sejak kapan, sering kali rekan-rekanita yang tunapasangan (Jomblo: bentuk takbaku dari Jomlo) menempati posisi yang kurang beruntung & inferior (teraniaya) di jagat Digital native (Facebook, Instagram, WhatApp dsb). Nahasnya, kadang kenyataan itu berujung pada dunia nyata. Ketika kongkow atau sedang rapat misalnya, nasib para jomblo yang sering ter-stigmatis ajek mendominasi isu unggulan yang cenderung sarkasme (majas sindiran level dewa) Oleh rekan rekannya yang sudah nirjomblo, sejenis "Jomlo Shamming".
Lahirnya istilah jomblo hingga sekarang, nampaknya masih banyak orang asik bertengkar pendapat perihal jomblo. Para Teolog mencurigai bahwa Jomlo adalah adalah obyektivitas Irodah Tuhan dengan iming-iming bahwa kelak disurga tidak ada yang jomblo alias mendapat jaminan bidadari. Disisi lain para pertapa mendedahkan dengan jalan moksa bagi para jomblo sampai meraih kebahagian sejati, yakni dengan meditasi dan olah jiwa. Tak tanggung-tanggung para mistikus juga urun rembuk menterminolog bahwa jomblo itu upaya untuk mendekatkan diri pada Tuhan dalam konteks gradasi spiritual. Sementara itu pengamat di bidang lain tak kunjung usai mengobservasi jomblo dari perspektif sesui dengan kepakarannya. Kabar baiknya, silakan anda juga bisa menterminolog istilah tersebut sesuai dengan perspektif amal dan perbuatan.
Episentrum jomlo yang akan penulis narasikan kali ini, dalam lingkup salah satu departemen yang ada di Organisasi Pelajar atau yang dilingkup rekan-rekanita lebih kondang dengan sapaan Departmen Jomblo. Pertanyaan lugunya, mengapa bisa demikian ? Seturut pengamatan penulis, keseluruhan anggota departmen ternyata mengidap tuna asmara, terlepas dari nasib ini sebuah ke-betul-an atau ke-keliru-an. Disisi lain, kondisi departemen yang hanya dihuni oleh laki-laki saja turut memprakarsai pengelistilahan ini. Tidak perlu penulis sebut semua, namun cukup eksponen-eksponennya (tokoh) saja.
Hingga kini, Jamak yang masih menyana bahwa jomlo adalah sebuah kesialan atau momok (hal yang cukup menakutkan). Namun hal tersebut tidak penulis temui pada diri Cak Syams.  Seorang eksponen yang konon oleh rekan rekannya sesama jomlo digadang-gadang sebagai tokoh kunci semacam "Jomlo of the year". Sedikit menyinggung nama, entah hal yang kebetulan atau memang benar masih ada darah keturunan, Syams disini memiliki kemiripan sifat/karater dengan Tokoh Syams at-Tabriz (Guru Besar Jalaludin Rumi) yang memiliki keelokan tutur kata dan sifat kebijaksanaan. Maka tak khayal disaat Syams ini berbicara dalam nuansa formal maupun non formal tak sedikit ukhti-ukhti yang terkesima melihatnya hingga tergeletak sampai mengglinding terguling-guling. Bahkan ketika kesal atau marah pun suaranya terdengar religius. Misal: marahnya terdengar seperti tilawah, jengkelnya dilantunkan layaknya tartil, menghardik dengan lagu bayyati, praktis anda seolah berada ditengah-tengah lomba MTQ, ketika anggotanya bandel pun panjang kemarahannya tidak lebih dari 4 harokat atau 2 alif.
Jomlo dengan keceriaan sebagai thoriqoh ninjanya. Kiranya ungkapan tersebut sedikit membatu untuk memahami sketsa biografi dari Eksponen Syams ini. Layaknya pemuda lain, kondisi batin cak Syams juga sering mengalami pasang surut dilanda kegundahan. Meski di rundung "nasib getir" namanya laki-laki pantang mematikan sisi ceria dalam hidupnya. Tawanya lebih sering pecah dibanding air matanya yang meruah. Tidak apa-apa jomlo, yang penting standart prestis (wibawa) harus tinggi. Baginya, seorang darah muda memikir pasangan itu sesuatu hal yang wajar adanya, tetapi tidak seharusnya waktu itu habis hanya untuk memikirkan dan menyibukkan dari sesuatu yang sudah dijamim (qodo & qodar)nya. Aura anatomi fisik good-looking yang cak syams miliki tidak menjadikannya terkecoh dari zaman gila pencitraan ini. Lika liku perjalan hidupnya selalu mengarah untuk menghasrati setiap perkembangan dan kemajuan sembari terus memoles potensi yang ada dalam dirinya.
Lain cak Syams lain lagi pula Gus Noewel. Meskipun sama-sama mengidap jomlo dan memiliki cara sendiri untuk menikmatinya, eksponen jomlo ini nampaknya juga punya ke-khas-an tersendiri. Ketika cak syams menggunakan keceriaan sebagai jalan ninnjanya, maka Gus Noewel menikmati ke-jomlo-an dengan petualangan pengembaraan intelektual sembari pendakian spiritual. Gus Noewel adalah tipe eksponen yang suka berkelana bahkan rekan rekannya pun sempat menyangka dia ini nomaden. Hal seperti itu dia lakukannya sejak dia kecil bermula dari satu penjara suci(Pesantren) ke penjara suci yang lain, dari satu organisasi ke organisasi yang lain.
Hemat penulis, Gus Noewel terinspirasi dari salah satu syair puisi karya imam syafi'i  yang berbunyi  "Tidak ada tempat bagi orang yang berakal dan beradab untuk beristirahat, tinggalkanlah tanah kelahiran dan mengasingkandirilah, Berkelanalah maka engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang kau tinggalkan, dan berlelah-lelahlah karena sesungguhnya nikmat hidup itu didapat saat kita berlelah-lelah". Sejarah menjadi saksi atas pengejawantahan teori Rihlah Intelektual tersebut, ulama-ulama besar Islam, baik klasik ataupun modern mengaplikaskan ritual rihlah intelektual ini dengan khidmat dan bijaksana. Bahkan nabipun diketahui ciri-ciri kenabiannya oleh pendeta bukhaira' juga disaat diajak pamannya rihlah (merantau). Pertanyaan mainstreamnya, apa istimewanya rihlah? orang yang sering berpetualang Intelektual biasanya lebih toleran, tahu banyak khilafiah, tahu banyak madzhab, perspektif lebih luas, tidak mudah kagetan dengan hal-hal baru, lebih santuy dan bahkan bisa menjadi buronan para pencari mantu idaman juga (jika beruntung).
Itulah kiranya penulis temui pada diri Gus Noewel. Praktis, ketika dia di kampus, pondok atau saat mulai kembali pulang ke kampung halamannya, orang berebut untuk di jadikan pasangan. Pendek kata, orang kalau merantau di bursa perjodohan level kampung hingga kampus dia akan menjadi rebutan. Sampai-sampai Gus Noewel ini dijadikan sebuah prototype atau dijadikan role model tentang bagaimana menjadi pria sholeh. Jangan salah, Gus Noewel ini juga perindu. slogan lugu kesetiannya "Yang lebih nikmat dalam cinta kasih bukanlah berjerih payah untuk bertemu, melaikan berjihad menanggung rindu" semacam mirip jihadis rindu. Daya khayaliyah-nya sudah di tingkat Jomlo shirotol mustaqiem yakni tak putus asa untuk terus elegan dan berjalan kearah masa depan sembari disisi lain dia juga istiqomah mempertahankan ke-jomlo-an demi menghargai rekan-rekan seperjuang yang juga jomlo (sejenis jomlo Muttafaqun 'Alaih). Gus Noewel Inilah yang digadang-gadang kuat akan melanjutkan tongkat estafet dari cak syams, semacam "the next cak syams".
Namun demikian, bukan berati Gus Noewel ini kebal derita, sering penulis jumpai dia di bully oleh rekannya nirjomlo. Maklum, bully membuly dikalangan lingkup pesantren sampai organisasi sudah seperti sego-jangan, tapi penulis sebisa mungkin menghibur dan membelanya, Bukan semata karena ia lemah, namun lebih kepada penyeimbang.
Membaca kondisi diri dan mengeja fenomena-fenomena dalam kehidupan keduanya bukanlah hal yang asing, tapi Jalan sunyi bernama "jomlo" itu jika disikapi dengan benar mampu mendedah ruang-ruang khusus yang berguna untuk sebuah kehidupan; gelimang makna. Dan seyogianya, para jomlo bisa meneledani sosok kedua eksponen jomlo yang telah ditahbiskan sebagai jomlo "recommended" ini, Cak Syams & Gus Noewel.  Tujuan tulisan ini sekedar fragmentasi (cuplikan) kehidupan, sebab niat mulanya untuk mengambil ibrah (pelajaran) dari mereka para jomlo (termasuk penulis sendiri).
Dari dua jomlo hebat yang sudah diceritakan diatas sebenarnya masih ada beberapa eksponen jomlo yang belum disinggung dan sepertinya berat untuk di narasikan. Kenapa bisa demikian ? Kabar buruknya, eksponan ini hampir saja mengalami "kemurtadan" (Apostasy) dari aliansi departemen jomlo. Dugaan sementara, eksponen jomlo ini mengalami drama tragedi kalau di dalam dunia filsafat disebut "peripeteia" yakni berbaliknya keuntungan menjadi kenahasan(Ambyarrr) karena kurangnya kendali jiwa dan olah rasa dalam menyikapi mantan calon ukhti-nya. Boleh jadi kondisi itu adalah sebuah ujian baginya. Kata Socrates  "the unixamined life is not worth living" (hidup yang tidak diuji adalah kehidupan yang tidak berharga). Mari kuatkan diri kalian dan solid likulli zaman wa likulli makan, mblo! , Semoga amal ibadah ramadhon kita semua diterima, Amiin.

Penulis: Muwilhab
editor : Anifa

Share this:

3 komentar :

 
Copyright © 2014 PC IPNU IPPNU KAB. KEDIRI. Designed by Ragiel Boy's Group